Rabu, 04 Februari 2009

Bismillah..

---------- Forwarded message ----------
From: Ayub Abu Ayub
Date: 2009/2/2
Subject: [nashihah] Nasehat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf
To: nashihah@yahoogroup s.com


Nasehat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf

Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Bajaly rahimahullâh, bahwa beliau bertanya
kepada muridnya Hatim, "Engkau telah menemaniku dalam kurung waktu
(yang lama). Lalu apakah yang engkau telah pelajari dari ku?"

Hatim rahimahullâh menjawab: "(Saya telah mempelajari) delapan perkara :

Pertama : Saya melihat kepada makhluk, ternyata setiap orang memiliki
kecintaan. Namun jika ia telah mencapai kuburnya maka kecintaannya
akan berpisah dari nya. Maka saya pun menjadikan (amalan-amalan)
kebaikanku sebagai kecintaanku agar ia senantiasa bersamaku di alam
kubur.

Kedua : Saya melihat kepada Firman ALLAH Ta'âlâ, "(Dan orang-orang
yang) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya." [An-Nâzi'ât : 40],
maka saya pun bersungguh-sungguh menolak hawa nafsu dari diriku
sehingga senantiasa tetap di atas ketaatan kepada ALLAH Ta'âlâ.

Ketiga : Saya melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga
bagi nya, pasti ia akan senantiasa menjaganya. Kemudian saya
memperhatikan Firman (ALLAH) Subhânahu wa Ta'âlâ, "Apa yang di sisimu
akan sirna, dan apa yang ada di sisi ALLAH adalah kekal." [An-Nahl
:96], maka setiap kali saya memiliki sesuatu yang berharga, pasti saya
hadapkan kepada-NYA agar ia kekal untukku di sisi-NYA.

Keempat : Saya melihat manusia kembali kepada harta, kedudukan dan
kehormatan, sedangkan itu tidak (berarti) sedikit pun. Kemudian saya
mencermati Firman (ALLAH) Ta'âlâ, "Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa
di antara kalian." [Al-Hujarât :13] maka saya pun beramal dengan
ketakwaan agar saya menjadi mulia di sisi-NYA.

Kelima : Saya melihat manusia saling mendengki (hasad). Lalu saya
memperhatikan Firman (ALLAH) Ta'âlâ, "KAMI telah menentukan antara
mereka penghidupan mereka." [Az-Zukhruf :32], maka saya pun
meninggalkan hasad.

Keenam : Saya melihat manusia saling bermusuhan. Kemudian saya
mencermati Firman (ALLAH) Ta'âlâ, "Sesungguhnya syaithân itu adalah
musuh bagi kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh." [Fâthir :6], maka
saya pun meninggalkan permusuhan mereka dan saya jadikan syaithân
sebagai musuh satu-satunya.

Ketujuh : Saya melihat mereka menghinakan diri-diri mereka dalam
mencari rezki. Lalu saya mencermati Firman (ALLAH) Ta'âlâ, "Dan tidak
ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan ALLAH-lah yang memberi
rezkinya." [Hûd :6], maka saya pun menyibukkan diriku dengan apa-apa
yang merupakan hak ALLAH terhadapku dan saya tinggalkan apa yang
untukku di sisi-NYA.

Kedelapan : Saya melihat mereka bergantung (tawakkal) pada pergangan,
usaha dan kesehatan badan, maka saya pun bertawakkal hanya kepada
ALLAH.

[Bahjatul Majâlis Wa Anîsul Muqîm Wal Musâfir Juz II hal 12-13]
Al-Ustadz Dzulqarnain

http://an-nashihah. com/index. php?mod=article&cat=MutiaraSalaf&

Kamis, 16 Oktober 2008

Rumus Tukang Parkir

Zikrul Maut - A Gymnastiar

Pernah melihat tukang parkir? Lihatlah, walaupun di lahan parkirnya begitu banyak mobil bagus dan mewah, tapi tak terlihat kesombongan sedikitpun.
Begitu pula dengan silih bergantinya mobil, baik yang bagus dengan yang lebih bagus ataupun yang lebih jelek, tak juga membuatnya menjadi takabur atau minder. Bahkan ketika diambil satu persatu sampai habis sekalipun, tak tampak rasa duka atau sedih karena merasa kehilangan.

Mengapa demikian? Penyebabnya adalah karena tukang parkir tidak merasa memiliki melainkan tanya merasa tertitipi. Jadi, ada dan tiada banyak mempengaruhi sikap mental.

Dengan kata lain, kesombongan seseorang, keminderan, iri, dengki ataupun ketakutan akan kehilangan duniawi merupakan indikasi bahwa dia belum sampai kepada keyakinan bahwa semuanya hanyalah titipan Allah belaka. Semakin lemah keyakinan seseorang, maka dia akan semakin merasa tersiksa dan diperbudak oleh perasaan salahnya, dan itu akan membuat dia semakin menderita.

Jikalau sudah kokoh dan mantap keyakinan bahwa segala-galanya hanyalah milik Allah semata, dan kita hanya sekedar makhluk yang mampir sebentar di dunia ini maka akan ada suatu kondisi batin yang mantap dimana kita tak goyah oleh ada dan tiada. Tak ada kesombongan, minder, irir , dengki dan ketakutan kehilangan ataupun kesedihan dengan ditiadaan.

Allahu a'lam

catatan dari milis Purbalingga penulis Ririn Wiandari"

Selasa, 14 Oktober 2008

Ketika Tangan Dan Kaki Berkata
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi (1949-2007)
di majalah sastra HORISON.

Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA

TaUFIQ ISMAIL

Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan.
Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu
dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.

Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy
syaithonirrojim. "Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna
aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata
kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah
mereka lakukan." Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini
luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna
itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna
yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah.
Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai.
Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah
selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya
asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah
Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang
dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya
berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya
coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya,
orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan
Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di
studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung
mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang!
Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya
terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.

* * *

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan
Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian
saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan
jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun 'kan?"

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.

* * *

Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty,
Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album
solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid
setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal
salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga
terbuka lebar baginya. Amin. #

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna

sumber milis jejak petualang pengirim "Jess"

Minggu, 12 Oktober 2008

Nilai Seikat Kembang

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang
diparkir di depan kuburan umum.

Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah
memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu
berkata,
"Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil
itu? Tolonglah Pak,karena para dokter mengatakan
sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda
setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu
mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan
itu sambil berkata,
" Saya Ny . Steven. Saya yang selama ini mengirim uang
setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim
uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan
menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk
berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda.
Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk
berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong
saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya,
sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang
yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang,
tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara
anak Anda." jawab pria itu.

"Apa, maaf?" tanya wanita itu dengan gusar.

"Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana
karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah
melihat keindahan seikat kembang.

Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan
kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin
yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih.
Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka
dapat menikmati keindahan dan keharuman
kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar
sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari
mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos
penjaga kuburan.

"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny ..
Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat
yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar
bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang
masih
hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang
sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan
kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo,
kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka
bahagia,
tetapi saya juga turut bahagia.

Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya
bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa
sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan
saya!"

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena
mengasihani diri sendiri akan membuat kita
terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang
mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu
dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong
diri sendiri.

sumber : dari milis purbalingga

Jumat, 10 Oktober 2008

Tabiatmu

catatan dari milis jejak petualang
Dari:
"Dani"


Suatu hari, Seorang yang bijak ditemani salah seorang anaknya berjalan-jalan ke tempat yang sunyi. Keduanya berjalan dan akhirnya sampai di perkebunan dengan pohon-pohon yang indah, bunga-bunga yang harum, dan buah-buahnya yang ranum. Ada sebuah pohon kecil di pinggir jalan yang condong karena ditiup angin. Ujungnya hampir menyentuh tanah.

Bapak yang bijak itu berkata kepada anaknya, "Lihatlah pohon yang miring itu. Kembalikan ia kepada keadaannya yang semula."
Anaknya pun bangkit menuju pohon itu. Dengan mudah dia berhasil meluruskannya.

Lalu keduanya berjalan lagi. Sekarang, keduanya sampai kepada sebuah pohon besar, batang-batangnya banyak yang bengkok. Bapak itu berkata kepada anaknya, "Anakku, lihatlah pohon ini. Betapa ia sangat memerlukan orang yang mau berbuat baik kepadanya untuk meluruskannya. Menghilangkan aib yang menodai­nya, dan menaikkan harganya di depan orang-­orang yang memandangnya. Kesanalah, lakukanlah apa yang kamu lakukan pada pohon sebelumnya."

Anaknya tersenyum terheran-heran. Dia menjawab, "Aku bukan tidak mau berbuat baik. Hanya saja pohon itu tidak mungkin diluruskan, karena usianya yang sudah tua. Benar, itu mungkin bisa dilakukan pada saat ia masih muda. Kalau sekarang, mana mungkin?"

Bapak bijak itu mengagumi anaknya. Dia bahagia melihat anaknya yang cerdas dan bisa menjawab dengan tepat. Dia berkata, "Kamu benar, anakku. Siapa yang tumbuh di atas sesuatu, maka ia menjadi tabiatnya. Beradablah sejak kecil, niscaya adab itu selalu menemanimu sampai kamu dewasa."

Kemudian keduanya pulang dan bapak bijak itu melantunkan syair,

"Budi pekerti itu berguna bagi bocah semasa kecilnya.

Adapun pada masa kepala telah beruban,

maka ia tidaklah berguna

Sesungguhnya jika kamu meluruskan ranting,

maka ia bisa lurus.

Sementara kayu, tidaklah mungkin kamu bisa meluruskannya. "





--khizr--


Diposkan oleh Tahajud call Comunity

Rabu, 08 Oktober 2008

4 Orang Yg di rindukan Surga

*
bulan syawal bulan penuh kemenangan, ada sebuah catatan dari milis Purbalingga yang mari kita bersama renungkan


"Rofi"



Rasulullah SAW, mengatakan :" Syurga merindukan empat orang:

1, orang yang senantiasa membaca Al-Qur'an. Nampaknya
wajar jikalau syurga merindukan ahli qur'an ini karena sejak didunia
saja mereka sudah diservis oleh Allah dengan ketenangan bathin, kasih
sayang-Nya, kecintaannya, kemuliaan dan selalu di ingat oleh-Nya.

2, penjaga lidah. Memang lidah tak bertulang tapi ia lebih tajam dari
sebilah pedang, dampaknya akan mengakibatkan peperangan antar suami
isteri, antar kelompok, bahkan antar dua bangsa. Efek negatifnya akan
membuat orang menjadi sengsara, akan melenyapkan pahala kebaikan yang
kita buat seperti api memakan kayu bakar, akan membuat puasa jadi
hampa dan sia-sia. Namun bila kita menjaganya, subhanallah… begitu
banyak kenikmatan akan kita raih, dengan lisan kita berdakwah, dengan
lisan kita bertilawah, dengan lisan kita berdo'a.

3, pemberi makan orang yang kelaparan. Sungguh, Allah Yang Maha
berterimakasih (Syakuur) akan membalas sekecil apapun kebaikan kita
kepada orang lain. Bila kita memberi minum kepada saudara kita yang
kehausan maka Allah akan memberi kita minum pada hari kiamat nanti
disaat orang-orang sedang dilanda dahaga, Bila kita memberi makan
kepada saudara kita yang sedang kelaparan, niscaya Allah akan memberi
kita makan di saat orang-orang kelaparan pada hari akhir nanti, Bila
kita memberi pakaian kepada saudara kita didunia ini, niscaya
Allah akan memberi kita pakaian yang indah disaat orang-orang
telanjang pada hari perhitungan nanti, bila kita memudahkan urusan
saudara kita yang sedang kesulitan dan dihimpit permasalahan, yakinlah
bahwa Allah akan memudahkan urusan kita sejak didunia ini. Pertolongan
Allah akan datang kepada seorang hamba manakala sang hamba menolong
saudaranya.

4, Orang-orang yang berpuasa di bulan ramadhan. Di bulan yang mulia
yang penuh berkah, rahmat, ampunan ini Allah menjanjikan kepada kita
akan pembebasan dari panasnya api neraka, pedihnya azab neraka dan
kejamnya siksa neraka bila kita berpuasa, dan menghidupkan malamnya
dengan shalat, qiro'at dan kholwat serta ibadah apapun dengan hanya
mengharap ridho-Nya.
tabaqolallahu minawamingkum minal 'aidin wal faizin

Senin, 06 Oktober 2008

Air Mata Mutiara

catatan ramadan yang tertinggal dari milis jejak petualang

"Dani"


Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."

Si ibu terdiam, sejenak, "Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

******
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara."


Diposkan oleh Tahajud call Comunity