Selasa, 30 September 2008

Jika kamu

dari milis Purbalingga

Dari:
"Rofi"


Renungan pagi

Jika kamu memancing ikan....
Setelah ikan itu terlekat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu....
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang...
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja....
Karena dia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingatmu. ...

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh.... cukuplah sekadar keperluanmu. ...
Apabila sekali ia retak.... tentu sukar untuk kamu menambalnya semula....Akhirnya ia dibuang ....

Sedangkan jika kamu coba membaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi....
Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya....
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu
menganggapnya begitu istimewa....

Anggaplah dia manusia biasa.
Apabila sekali dia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. ...
akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya....

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi... yang kamu pasti baik untuk dirimu. Mengenyangkan.

Berkhasiat. Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain..
Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh
memakannya. Kamu akan menyesal.
Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan..... yang kamu pasti membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu.

Mengapa kamu berlengah, coba membandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kamu akan kehilangannya apabila dia menjadi milik orang lain.


"Cinta adalah Sesuatu anugrah Yg Indah"
http://dennisandsto ry.spaces. live.com/

Minggu, 28 September 2008

Tak Perlu Ajari Kami Berpuasa

di ambil dari milis Jejak Petualang

Dari:
"Jess"



Berpuasa Hari ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak menuju rumah ibu. Sore itu, tak biasanya udara begitu segar, angin lembut menerpa wajah dan rambutku. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang, "Abang becak ...?" Ya, kudapati ia tengah lahapnya menyuap potongan terakhir pisanggoreng di tangannya. Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. "Heeh, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan ...," gumamku.


Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan ... untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada
saat kebanyakan orang tengah berpuasa.

"mmm ..., Abang muslim bukan? tanyaku ragu-ragu. "Ya dik, saya muslim .." jawabnya terengah sambil terus mengayuh. "Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan.Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa .." deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.

Tukang becak yang kutaksir berusia di atas empat puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap ke arahnya.



"Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini." Tanpa memberikan kesempatanku untuk memotongnya,"Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa," jelas bapak tukang becak itu.
"Maksud bapak?" mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya. "Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib,
sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya ..."
"Jadi ...," belum sempat kuteruskan kalimatku, "Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan ..."
"Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi..." kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya saya di tempat tujuan.

Sungguh. Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi. Tidak semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya.Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun takkan berputar ..
Ah, kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?

Jumat, 26 September 2008

Doa yang indah

dari milis jejak petualang


Dari:
"Dani"

jejakpetualang@yahoogroups.com, pendaki@yahoogroups.com



Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaanku.
Tuhan menjawab, Tidak."Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya".

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyempurnakan kecacatanku.
Tuhan menjawab, Tidak."Jiwa adalah sempurna,badan hanyalah sementara".

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkanku kesabaran.
Tuhan menjawab, Tidak."Kesabaran adalah hasil dari kesulitan;
itu tidak dihadiahkan,
itu harus dipelajari".

Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku kebahagiaan.
Tuhan menjawab, Tidak."Aku memberimu berkat.Kebahagiaan adalah tergantung padamu".

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan penderitaan.
Tuhan menjawab, Tidak."Penderitaan mejauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu".


Aku meminta kepada Tuhan segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
Tuhan menjawab, Tidak."Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal".

Aku meminta kepada Tuhan membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.
Tuhan menjawab.."Ahhh, akhirnya kau mengerti".

HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN

Diposkan oleh Tahajud call Comunity

Rabu, 24 September 2008

Indahnya malam pertama

Lanjutan dari milis Jejak petualang Lowongan kerja ketika kita baru diterima


Satu hal
sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi
bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke
peraduan Adam Dan Hawa

Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang
Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari
itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan
Kita terbuka....
Tak Ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak Ada
sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari
lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi
kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu
itu

Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna
putih
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal
bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita...
Bagian kepala..,badan.
..., Dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda
pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding
sendirian...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan
tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi
langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan
syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan
talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang
tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan

Dan
akhirnya.... . Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal
sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama
bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap Dan cacing tanah
Di kamar
bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang
Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah
Kita kan
memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang
tahu....
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan... .
Padahal nikmat
atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali
meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...

Dan
Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke
neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi
.....sudah pantaskah sikap kita selama ini...
Untuk disebut sebagai ahli
syurga

Baca jika anda ada masa
/waktuuntuk ALLAH.
Bacalah hingga
habis.
Saya hampir membuang email ini namun saya telah diberi anugerah
untuk membaca terus hingga ke akhir.

ALLAH, bila saya membaca
e-mailini, saya pikir saya tidak ada
waktu untuk ini....
Lebih lebih lagi diwaktu kerja. Kemudian saya tersadar
bahwa pemikiran semacam inilah yang ....
Sebenarnya, menimbulkan pelbagai
masalah di dunia ini.

Kita coba menyimpan ALLAH didalam MASJID pada
hari Jum'at......
Mungkin malam JUM'AT?
Dan sewaktu solat MAGRIB SAJA?
Kita suka ALLAH pada masa kita sakit....
Dan sudah pasti waktu ada
kematian...

Walau bagaimanapun kita tidak ada waktu atau ruang untuk
ALLAH waktu bekerja atau bermain?
Karena...
Kita merasakan diwaktu itu
kita mampu dan sewajarnya mengurus sendiri tanpa bergantung padaNYA.

Semoga ALLAH mengampuni aku karena menyangka... ...
Bahwa nun di sana masih ada
tempat dan waktu dimana ALLAH bukan lah yang palingutama dalam
hidup ku (nauzubillah)

Kita sepatutnya senantiasa mengenang akan segala
yang telah DIA berikan kepada kita.
DIA telah memberikan segala-galanya
kepada kita sebelum kita meminta.

ALLAH
Dia adalah sumber
kewujudankudan Penyelamatku
IA lah yang mengerakkan ku setiap detik dan
hari.
TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna.

Susah vs. Senang
Kenapa susah sekali menyampaikan
kebenaran?

Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika selesai
ceramah kita segar kembali?
Kenapa mudah sekali membuang e-mail agama tetapi
kita bangga mem "forward" kan email yang tak senonoh?
Hadiah yang
paling istimewa yang pernah kita terima.
Solat adalah yang terbaik.... Tidak
perlu bayaran , tetapi ganjaran lumayan.
Notes: Tidak kah lucu betapa
mudahnya bagi manusia TIDAK Beriman PADA ALLAH
setelah itu heran kenapakah
dunia ini menjadi neraka bagi mereka.

Tidakkah lucu bila seseorang
berkata "AKU BERIMAN PADA ALLAH" TETAPI SENTIASA MENGIKUT SYAITAN. (who, by the
way, also"believes"
in ALLAH ).

Tidakkah lucu bagaimana anda mampu mengirim ribuan email
lawak yang akhirnya tersebar bagai api yangtidak
terkendali., tetapi bila anda mengirim email mengenai ISLAM, sering orang
berpikir 10 kali untuk berkongsi?

Tidakkah mengherankan bagaimana
bila anda mulai mengirim pesan ini anda tidak akan mengirim kepada
semuarekan anda
karena memikirkan apa tanggapan mereka terhadap anda atau anda tak pasti apakah
mereka suka atau tidak?.

Tidakkah mengherankan bagaimana anda merasa
risau akan tanggapan orang kepada saya lebih dari tanggapan ALLAH terhadap
anda.

Aku berDOA , untuk semua yang mengirim pesan ini kepada semua
rekan mereka di rahmati ALLAH.

Senin, 22 September 2008

Lowongan Karyawan Tetap Selamanya:

catatan dari milis jejak petualang
Dari:
"Rahmi Aulina"

"JPers" ,






Kesempatan
ini akan diberikan kepada Semua orang tanpa pengecualian. Anda hanya perlu
membaca dan mengerti.

LOWONGAN
UNTUK POSISI:
a.
Anggota Syurga Dari Awal.
b. Anggota Neraka Dari Awal.
c. Anggota Neraka
temporer Kemudian ditransfer ke Syurga.

I. EMPAT
KEUNTUNGAN LUMAYAN (untuk posisi a ):
a.
Nikmat kubur.
b. Perlindungan di Padang Mahsyar.
c. Keselamatan Meniti
Sirath-al mustaqim.
d. Syurga yang kekal abadi.

WAKTU
WAWANCARA/INTERVIEW
Kapan
saja secara adhoc mulai dari saat membaca iklan ini.

LOKASI
WAWANCARA/INTERVIEW :
Dalam
kubur (alam barzakh).

SYARAT:
- Tidak
diperlukan ijazah
- Tidak diperlukan pangkat atau sertifikat.
- Tidak
perlu bawa harta (yang banyak)
- Tidak perlu berwajah cantik, ganteng,
berbadan tegap atau seksi

Hanya
diperlukan bawa dokumen asli Iman dan Amal.
Yang melakukan interview :
Mungkar dan Nangkir.

INI NIH
BOCORAN PERTANYAAN INTERVIEW (6 Soal)
1.
Siapa Tuhanmu ?
2. Apa Agamamu ?
3. Siapa Nabimu?
4. Apa Kitabmu?
5. Dimana Kiblatmu ?
6. Siapa Saudaramu?

CARA
MELAMAR:
Tak
perlu kemana-mana dan bersusah payah, Anda hanya menunggu jemputan yang
berkaliber untuk menjemput anda. Ia akan menjemput anda kapan dan dimana saja
(mungkin sebentar lagi), namanya Izrail.

TIPS UNTUK
BERHASIL DALAM WAWANCARA TERTUTUP INI:
Hadist
Hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad Hanbal, yang bermaksud;

Sabda
Rasulullah SAW:
"Sesungguhnya!
bila jenazah seseorang diletakkan didalam kubur, sesungguhnya jenazah itu
mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburan pada saat mereka
meninggalkan tempat itu.

Jika mayat itu seorang muslim, maka sholat yang
dilakukannya ketika beliau masih hidup akan diletakkan di kepalanya, puasanya
diletakkan di sebelah kanannya, zakatnya diletakkan di sebelah kirinya dan
amalan kebajikan sedekah, silaturrohim, masalah kebajikan dan ihsan diletakkan
diujung kedua kakinya.

Ia akan didatangi malaikat dari bagian kepala,
maka sholat itu berkata kepada malaikat: dari bagianku tidak ada jalan masuk.
Kemudian malaikat berpindah ke sebelah kanan, maka puasa berkata kepadanya: dari
bagianku tidak ada jalan masuk. Kemudian malaikat berpindah ke sebelah kiri,
maka zakat berkata kepadanya: dari bagianku tidak ada jalan masuk. Kemudian dia
didatangi dari arah ujung kakinya dan berkatalah amal kebajikan: di bahagianku
tidak ada jalan masuk.

Maka
malaikat berkata kepadanya: Duduklah kamu! Kepadanya (mayat) diperlihatkan
matahari yang sudah mulai terbenam, lalu malaikat bertanya kepada mayat itu:
Apakah pandangan kamu tentang seorang laki-laki (Muhammad SAW) yang kamu dahulu
sentiasa berbicara tentang dia, dan bagaimana kesaksian kamu kepadanya? Maka
mayat itu berkata: Tinggalkan aku sebentar, aku hendak sembahyang. Malaikat
berkata: sesungguhnya engkau akan mengerjakan sholat (boleh saja) tetapi jawab
dahulu apa yang kami tanyakan ini. Apakah pandangan kamu tentang seorang
laki-laki (Muhammad SAW) yang dahulu kamu selalu berbicara tentang dia; dan
bagaimana kesaksian kamu kepadanya?

Maka berkata mayat itu: Laki-laki
itu Nabi Muhammad SAW dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW itu ialah utusan
Allah SWT yang membawa kebenaran dari Allah SWT.

Maka malaikat berkata
kepada mayat itu; Demikianlah kamu dihidupkan dan begitu juga kamu dimatikan dan
dengan demikian juga kamu dibangkitkan semula di akhirat, Insya Allah.

Kemudian dibukakan baginya satu pintu disyurga, maka dikatakan kepadanya
itulah tempat kamu dan itulah janji Allah pada kamu dan kamu akan berada di
dalamnya. Maka bertambah gembiralah mayat itu. Kemudian dilapangkan kuburnya
seluas 70 hasta dan disinari cahaya baginya.

Wah..Nampaknya
pertahanan kita perlu kuat nich...dari semua penjuru (kepala, kanan, kiri dan
ujung kaki).

II. Untuk posisi (b)

Tidak diperlukan belajar, gak usah berpikir, hiduplah sesuka
anda...Wallahu- a'lam.

III. Untuk
posisi (c)

Hanya diperlukan ibadah ala kadarnya (asal ucapin
kalimat Tauhid), dan hidup sesuka anda...

Wallahu-a'lam. ..



____________ _________ _________ __

Sabtu, 20 September 2008

Kaca Spion

catatan dari milis purbalingga yang patut untuk kita renungkan
Jumat, 12 September, 2008 09:37
Dari:
"Yulie"

Kepada:
Undisclosed-Recipient@yahoo.com

Dikutip dari www.kickandy. com....
Semoga bermanfaat ...

Salam, Yulie
------------ --------- --------


Untuk selalu mengingatkan kita untuk tidak takabur .... Amien ....



Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana. Bukan untuk
baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa
lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?

Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya.
Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika
masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero
Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di
Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia.
Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan
kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya. Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya
bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang
sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma
enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar.
Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami ? ibu, dua kakak, dan saya ? harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan
uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah
artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci
orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.

Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah
berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena
sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang
enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya
terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi
sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.

Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.

Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang
dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya
terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.

Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang
ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.
Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah
artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.

Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang
pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

Kamis, 18 September 2008

”Ucapan Terima Kasih - Alhamdulillah

From: Mansyur, Muchamad (MUHAMMAD)
Sent: 12 September, 2008 6:55 AM
dari milis purbalingga
To: HMM Community TPRA
Subject: [HMM-PTFI] E-Muslim: Ucapan Terima Kasih - Alhamdulillah ...





E - N E W S L E T T E R Himpunan Masyarakat Muslim [HMM]


Jum’at, 12 September 2008 [edisi: 54]

”Ucapan Terima Kasih - Alhamdulillah 11 Kali Per Jam

Menolong dan Mengubah Nasib Anda”

Oleh: Hardi



Pernahkan Anda bersikap terhadap apapun yang Anda terima, Anda mengucapkan terima kasih – alhamdulillah? Atau bagaimana jika pertanyaannya disederhanakan menjadi demikian: Berapa kali Anda sehari semalam mengucapkan terima kasih – alhamdulillah kepada apapun di sekitar Anda? Anda lah yang mengetahui jawabannya.



Disebutkan dengan jelas bahwa sikap terpuji yang diajarkan oleh Allah SWT kepada kita adalah banyak bersyukur. La insyakartum la-azii dannakum. Bersyukur pasti mendatangkan nikmat berkali lipat. Bersyukur yang paling mudah adalah dengan do’a mengucapkan alhamdulillah.



Terkait dengan do’a dalam beberapa kesempatan, sering penulis bertanya kepada kawan-kawan apa yang disebut dengan DO’A, kalau kata BERDOA dikategorikan sebagai kata kerja? Banyak mereka menjawab dengan dalil agama yang sangat lengkap dan masyhur yaitu ad-du’aau muukhul ‘ibaadah – doa adalah inti ibadah. Dari sisi dalil betul itulah terminologi yang paling pas untuk sebuah kata yang disebut do’a.



Penulis kemudian mengulangi pertanyaan kepada kawan-kawan, do’a itu kata apa dan terbuat dari apa. Akhirnya beberapa dari kawan bisa menjawab dengan sangat mudah, karena pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mudah. Yaitu do’a adalah kata benda yang terbuat (baca: manifestasi) dari perasaan dan pikiran.



Mari penulis tunjukkan buktinya. Ketika kita sedang dirundung permasalahan, perasaan kita akan menjadi runyam dan sudah pasti pikiran kita juga akan mengikuti perasaan dan hati kita bukan?



Nah, permasalahan yang menimpa kita bukan terpecahkan tapi akan bertumpuk dan bertumpuk, karena perasaan dan pikiran kita yang menjadi kacau. Pas sekali ungkapan, sudah jatuh tertimpa tangga, kan? Anehnya ketika kita ditanya tentang permasalahan yang menimpa, kita seringkali menjawab – lip service – alhamdulillah Allah SWT telah memberikan cobaan kepada saya. Karena ucapan alhamdulillah hanya sebatas lip service, maka kalaupun kita berdagang dengan Allah SWT, kita hanya mendapatkan sedikit pahala.






Kembali ke kata kunci, do’a adalah kata benda yang dimanifestasikan dari (keadaan) pikiran dan perasaan. Sesuai dengan judul tulisan ini, saya akan mengajak pembaca untuk mengambil manfaat kalimat alhamdulillah (terima kasih/thank You to Al-Mighty) pemberian Allah SWT ini untuk kehidupan kita sehari-hari.



Begini. Jika di dalam perasaan dan pikiran kita sedang ada masalah, secara otomatis di dalam do’a selepas sholat sering kita memohon kepada Allah SWT untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun begitu do’a kita sudahi dan kita kembali ke kehidupan normal, banyak dari kita mengeluh dan bahkan mengumpat pada keadaan yang kita alami. ‘Wah, koq begini ya keadaan ini.’ ‘Yaaa, begitulah kita ini memang tidak pernah beruntung.’



Apa yang terjadi kemudian? Telah terjadi perang do’a di dalam ruh kita. Di dalam sholat (sehari semalam 5 kali tidak lebih dari 1 jam keseluruhannya) kita berdoa dengan sepenuh hati, namun di luar itu dalam seharian kita kita menghiasi mulut dan perasaan serta pikiran kita dengan keluh kesah. Sesuatu yang diametral bukan?



Kalimat terima kasih - alhamdulillah semestinya tidak diucapkan sebagai lip service setelah kita tidak puas terhadap sesuatu yang kita terima. Kemudian kita pasrahkan yang kita terima itu, sebagai bentuk pengungkapan kata ‘yaa sudah lah – mau bagaimana lagi?’ - Disyukuri saja Alhamdulillah – Terima kasih kepada Allah SWT.



Penulis ingin mengajak kepada pembaca untuk mengubah pola pengucapan terima kasih – alhamdulillah dengan mengacu dan mengimani firman Allah SWT La insyakartum la-azii dannakum, dahului lah setiap apapun yang kita terima dengan kata terima kasih – alhamdulillah, niscaya Allah akan menambah nikmat atau bahkan menyelesaikan permasalahan yang Anda hadapi.



Penutup: Dengan menghadirkan hati yang tulus dan ikhlas, silahkan mencoba mengucapkan terima kasih – alhamdulillah 11 kali per jam atas apapun yang telah Anda alami, dan nikmatilah kekuasaan Allah SWT akan membantu Anda dalam segala hal. Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri!

Selasa, 16 September 2008

empat perkara

Dr. Musthafa as-Siba'i berkata:

"Hindarilah perkara dalam empat hal:

1) bangga dengan ilmumu saat berdiskusi dan berdebat,

2) merasa hebat didepan orang orang yang mengenalmu

3) menunda berbuat baik ketika mendapat kesempatan"

4) mengemukakan kelemahan & kelebihan orang dengan cara membandingkan bandingkan diantara mereka.


selamat menunaikan ibadah puasa



"Cinta adalah Sesuatu anugrah Yg Indah"
http://dennisandsto ry.spaces. live.com

Minggu, 14 September 2008

catatan dari Emha Ainun Nadjib

ketika aku buka milis purbalingga aku dapet email seperti ini

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. 'Cak Nun,' kata sang penanya, 'misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?'

Cak Nun menjawab lantang, 'Ya nolong orang kecelakaan.'

'Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?' kejar si penanya.

'Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,' jawab Cak Nun.

'Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ' katanya lagi. 'Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan
ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan
mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, 'Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.


Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurk an hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?'

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalny a, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas) . Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.


Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik VS Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, 'Ia di neraka.' Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.
Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.

Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.

Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.

Yang ekstrinsik
memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai- nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya,
agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungj awab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.

Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.
Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafika n. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.